Menggabungkan machine learning, analisis spasial, dan pendekatan sosio-ekonomi, disertasi ini menghasilkan peta prioritas intervensi pengelolaan sampah plastik di tingkat rumah tangga — pertama kalinya dilakukan dalam skala provinsi di Indonesia.
Dr. Elprida Agustinaresmi meraih gelar Doktor dari Program Studi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji pada 22 April 2026. Penelitian berjudul “Pengembangan Variabel Model Material Flow Sampah Plastik di Sumber dengan Analisis Geospasial dan Sosioekonomi” ini menawarkan pendekatan baru yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan analisis spasial untuk memetakan perilaku pengelolaan sampah plastik di tingkat rumah tangga — sebuah terobosan yang selama ini belum pernah dilakukan dalam skala provinsi di Indonesia.
Bali, sebagai salah satu destinasi wisata terkemuka di dunia, menghadapi tekanan pengelolaan sampah yang sangat besar. Namun selama ini, kebijakan penanganan sampah plastik kerap dibuat tanpa peta yang memadai tentang di mana dan bagaimana masyarakat sesungguhnya berperilaku. Disertasi ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut.
Studi ini mencakup 905.935 rumah tangga di seluruh Provinsi Bali. Pengambilan sampel timbulan dan komposisi sampah dilakukan terhadap 200 rumah selama delapan hari berturut-turut sesuai dengan SNI 19-3964-1994. Sebanyak 700 responden dilibatkan dalam survei yang mengukur perilaku penanganan sampah plastik dan kondisi sosio-ekonomi masing-masing rumah tangga. Data spasial turut dikumpulkan, meliputi koordinat geografis, luas bangunan, serta data penginderaan jauh yang diekstrak sesuai dengan titik koordinat setiap rumah sampel.
Kekayaan data ini kemudian diolah menggunakan dua pendekatan machine learning: model regresi Light Gradient Boosting Machine (LGBM) untuk memproyeksikan timbulan sampah plastik, dan model klasifikasi Random Forest (RF) untuk memprediksi perilaku penanganan — mulai dari penjualan sampah hingga pembakaran dan pembuangan ke sungai. Akurasi proyeksi timbulan terbilang tinggi, dengan nilai R² sebesar 0,88 dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) sebesar 12,88% pada data pengujian.
Temuan penelitian mengungkap gambaran yang jauh lebih rumit dari yang selama ini diasumsikan. Dari total populasi yang diproyeksikan, hanya 26,72% masyarakat yang aktif melakukan pengurangan sampah plastik dengan cara menjualnya ke pengepul. Sementara itu, 48% masih membakar sampah plastik dan 28% membuangnya ke sungai — dua praktik yang berdampak langsung pada kualitas udara dan ekosistem perairan.
Yang menarik, wilayah pedesaan menunjukkan pola yang unik: meski timbulan sampah plastik tergolong menengah-rendah, masyarakat di wilayah ini cenderung menjual sampah dengan motif ekonomi, namun pada saat yang sama juga melakukan pembakaran dan pembuangan ke sungai. Temuan ini menunjukkan bahwa motif ekonomi dan perilaku negatif bisa berjalan beriringan — sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh pendekatan survei konvensional.
Salah satu kontribusi terpenting penelitian ini adalah menghasilkan enam level intervensi berbasis lokasi yang dapat langsung digunakan sebagai dasar perumusan kebijakan. Peta intervensi ini, yang divisualisasikan menggunakan ArcGIS Pro, memberi gambaran konkret kepada pembuat kebijakan tentang wilayah mana yang perlu diprioritaskan untuk program edukasi, penguatan infrastruktur pengurangan sampah, atau penegakan regulasi.
Analisis lanjutan menggunakan Multiple Correspondence Analysis dan K-means clustering mengidentifikasi tiga kluster masyarakat yang berbeda secara profil risiko: kelompok yang aktif membakar tanpa melakukan pengurangan, kelompok dengan risiko bervariasi, dan kelompok dengan risiko rendah-menengah. Pengelompokan ini memungkinkan intervensi yang lebih terdiferensiasi dan efisien.
Sidang terbuka berlangsung di CIBE 306, dipimpin oleh Prof. Indah Rachmatiah Siti Salami, MSc., PhD, dan dihadiri oleh tim pembimbing (Prof. Emenda Sembiring, MSCE, PhD dan Dr. Anjar Dimara Sakti) serta tim penguji. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah Bali dan provinsi lain di Indonesia dalam merancang kebijakan pengelolaan sampah plastik yang lebih tepat sasaran, berbasis data, dan berkeadilan spasial.