Menuju Pariwisata Rendah Karbon: Riset Doktoral Petakan Roadmap Keberlanjutan Kota Bukittinggi Melalui Pendekatan LCA

.

Pariwisata merupakan sektor penting di Indonesia. Namun, di balik pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor ini, terdapat tantangan besar berupa tekanan terhadap daya dukung lingkungan. Menanggapi urgensi tersebut, Dr. Nofriya, dari Program Doktor Teknik Lingkungan, FTSL ITB, berhasil mempertahankan disertasinya yang membedah dampak lingkungan pariwisata secara kuantitatif pada tanggal 21 April 2026.

Dalam sidang promosi doktor yang berlangsung khidmat tersebut, Dr. Nofriya memaparkan penelitian berjudul “Model Penilaian Pariwisata Berwawasan Lingkungan Melalui Life Cycle Assessment di Kota Bukittinggi”.Penelitian ini menjadi sangat krusial mengingat keterbatasan lahan dan sumber daya alam yang dimiliki Bukittinggi sebagai kota wisata yang padat penduduk.

Berbeda dengan kajian pariwisata pada umumnya, riset ini menggunakan pendekatan ilmiah yang sangat presisi. Peneliti menetapkan “Unit Fungsional” berupa aktivitas satu orang wisatawan selama satu hari di Kota Bukittinggi. Lingkup analisisnya pun mencakup seluruh rantai aktivitas, mulai dari subsistem akomodasi, transportasi, rekreasi, hingga wisata kuliner dan belanja. Temuan riset mengungkapkan aktivitas harian wisatawan berdampak terhadap Global Warming Potential (GWP) atau potensi pemanasan global, dari kegiatan akomodasi, transportasi, kuliner, dan belanja. Lebih jauh lagi, penelitian ini membedah dampak akhir yang dirasakan langsung oleh lingkungan dan manusia. Secara mengejutkan, beban lingkungan ini diproyeksikan akan terus meningkat hingga tahun 2040 jika tidak ada intervensi kebijakan yang serius.

Riset ini mencatat bahwa aktivitas pariwisata yang tidak terencana berpotensi menyebabkan penurunan kesehatan manusia yang direpresentasikan oleh hilangnya hari sehat akibat disabilitas (DALY), serta degradasi kualitas ekosistem air tawar, darat, hingga laut. Selain itu, terdapat peningkatan biaya pemulihan sumber daya alam sebesar 0,36 USD per wisatawan per hari yang harus ditanggung di masa depan.

Namun, penelitian ini tidak hanya berhenti pada pemetaan masalah. Dr. Nofriya merumuskan sebuah skenario pptimis yang dapat menurunkan beban lingkungan secara drastis, yang melibatkan penggunaan panel surya, penerapan sistem rain water harvesting, transisi ke layanan transportasi Listrik, dan penggantian total penggunaan kayu bakar dengan sumber energi bersih lain. Sebagai tindak lanjut praktis, riset ini menghasilkan sebuah Roadmap Pariwisata Berkelanjutan Kota Bukittinggi periode 2026–2035. Dengan menggunakan pendekatan Three Horizons, roadmap ini membagi langkah strategis menjadi tiga tahap: Stabilisasi, Transformasi, dan Integrasi. Dengan rampungnya penelitian ini, Pemerintah Kota Bukittinggi kini memiliki dokumen akademik yang kuat untuk merumuskan kebijakan pariwisata yang lebih hijau, rendah karbon, dan berdaya saing global. Keberhasilan Dr. Nofriya meraih gelar Doktor ini diharapkan menjadi pemantik bagi riset-riset serupa di destinasi wisata lain di Indonesia.

ARTIKEL KESEHATAN

Artikel Lainnya yang Sesuai

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Scroll to Top