Salah satu mitos paling bertahan dalam pendidikan doktoral adalah anggapan bahwa menempuh pendidikan doktoral terutama merupakan ujian kecerdasan. Mahasiswa S3 Program Doktor TL ITB, Elprida Agustina, yang diselenggarakan pada FTSL Graduate School Seminar Series justru menantang asumsi ini secara langsung. Pendidikan doktoral bukan hanya soal intelektualitas, tetapi juga tentang ketangguhan mental, kekuatan emosional, dan relasi dengan sesame dan diri sendiri.
Dalam sesi ini, berbagai do’s and don’ts dalam kehidupan doktoral tidak disampaikan sebagai aturan kaku, melainkan sebagai pengingat—berangkat dari pengalaman nyata Elprida—tentang bagaimana tetap menjadi manusia di tengah perjalanan akademik yang panjang dan penuh ketidakpastian.
Jangan Menunggu Sampai “Siap”
Salah satu jebakan yang sering dialami mahasiswa doktoral adalah keyakinan bahwa menulis atau mengirimkan artikel baru sebaiknya dilakukan setelah semuanya terasa benar-benar jelas.
Padahal, seperti ditekankan dalam sesi ini, kejelasan sering kali justru muncul setelah kita mulai bergerak, bukan sebelumnya. Pengumpulan data, analisis, menulis, mengirimkan naskah, menerima revisi—semua proses ini jarang berjalan lurus, dan hampir tidak pernah terasa sepenuhnya “siap”. Terlalu lama berpikir sebelum mengirimkan karya bukan selalu tanda kehati-hatian akademik; sering kali ia adalah bentuk perfeksionisme yang keliru.
Merasa Tersesat Bukan Berarti Gagal
Salah satu slide yang diperlihatkan Elprida merangkum ini dengan sangat tepat: “Merasa tersesat tidak berarti kita sedang gagal.” Banyak mahasiswa doktoral mengalami fase panjang penuh ketidakpastian, disertai bisikan dalam hati, “Saya sebenarnya sedang melakukan apa?” Sesi ini menegaskan bahwa perasaan tersebut adalah sesuatu yang wajar.
Berjuang tidak berarti seseorang tidak pantas berada di program PhD. Justru sebaliknya, sering kali itu adalah tanda bahwa mahasiswa sedang menjalani inti dari pendidikan doktoral itu sendiri: duduk bersama ketidakpastian, belajar merumuskan pertanyaan yang lebih baik, dan berani meninjau ulang asumsi yang sebelumnya diyakini.
PhD Tidak Terlepas dari Kehidupan Pribadi
Pengingat penting lainnya adalah bahwa perjalanan PhD tidak pernah terpisah dari lintasan kehidupan pribadi. Ada fase-fase kritis dalam hidup—tanggung jawab keluarga, tantangan kesehatan, transisi emosional—yang berjalan bersamaan dengan target-target akademik. Mengabaikan kehidupan pribadi ini tidak membuat proses PhD menjadi lebih efisien; justru membuatnya lebih rapuh.
Manfaatkan Status Mahasiswa—Sepenuhnya
Mahasiswa doktoral juga diingatkan bahwa menjadi “mahasiswa” bukanlah posisi yang kurang. Status ini justru membuka banyak peluang: potongan biaya konferensi, penghargaan khusus mahasiswa, lokakarya, pelatihan, program pertukaran, dan—yang tidak kalah penting—ruang untuk belajar tanpa harus sudah “sempurna”.
Selain itu, mencari mentor dan berkolaborasi dengan rekan lintas disiplin dan perspektif bukanlah gangguan dari PhD. Hal tersebut adalah bagian dari proses menjadi seorang akademisi yang mandiri.
Sesi ini ditutup dengan satu pernyataan dari Elprida yang terasa sangat membumi:
“PhD yang baik adalah PhD yang diselesaikan tanpa kehilangan diri sendiri.”
Bagi Prodi, cara pandang ini penting. Tujuan pendidikan doktoral bukan semata menghasilkan disertasi dan publikasi, melainkan membentuk ilmuwan yang mampu berpikir kritis, menghadapi kompleksitas, mengelola kegagalan, dan terus berkontribusi jauh setelah kelulusan. Bagaimanapun, PhD bukan tujuan akhir, melainkan ajang berlatih dan lisensi untuk melakukan riset secara mandiri.