Melihat Konflik Secara Berbeda: Insights dari Seminar Manajemen Konflik

.

Konflik sering dipandang sebagai gangguan; sesuatu yang sebaiknya dihindari atau diredam. Namun dalam kehidupan akademik, dan khususnya dalam pendidikan doktoral, konflik bukanlah anomali. Konflik seringkali merupakan ciri struktural dari keberagaman, baik dalam hal perbedaan disiplin, identitas, nilai, dan cara pandang.

Perspektif inilah yang membingkai FTSL Graduate School Seminar Series yang diselenggarakan oleh FTSL ITB pada bulan Desember 2025 yang lalu. Andika Putra Pratama, Ph.D., dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB dengan keahlian di bidang managerial diversity hadir untuk memfasilitasi sesi tentang manajemen konflik. Alih-alih menawarkan formula praktis atau “step-by-step” menangani konflik, seminar ini mengajak peserta untuk memikirkan ulang konflik sebagai fenomena intelektual, relasional, dan intrapersonal.

Konflik sebagai the Art of Seeing

Salah satu gagasan yang paling beresonansi dalam seminar ini adalah pemaknaan konflik sebagai “the art of seeing”. Bahkan ketika kita merasa sedang mengamati sesuatu secara objektif, persepsi kita selalu dimediasi oleh berbagai filter, misalnya latar belakang keilmuan, pengalaman personal, identitas profesional, serta kondisi emosional. Dengan demikian, konflik bukan semata-mata perbedaan pendapat, melainkan juga tentang bagaimana realitas itu sendiri dikonstruksikan. Dalam riset, perbedaan pandangan bukanlah kelemahan; namun justru merupakan kekuatan yang produktif. Konflik dapat memperkaya cara kita membangun pengetahuan, mempertajam argumen, dan mengungkap asumsi-asumsi yang sebelumnya tersembunyi.

Sebagai kandidat doktor dan akademisi, kita menjalani banyak identitas sekaligus (peneliti, pengajar, pemimpin, orang tua, rekan kerja). Ketegangan antarperan ini sering kali muncul ke permukaan dalam bentuk konflik interpersonal. Pengembangan kesadaran diri ditekankan sebagai keterampilan dasar dalam mengelola konflik secara bertanggung jawab. Tanpa mekanisme untuk mengatur batas antara ranah personal dan profesional, konflik mudah menjadi tidak proporsional dan sarat muatan emosional.

Konflik relasional atau emosional dapat menjadi destruktif ketika perbedaan pendapat dipersepsi sebagai penolakan personal: “Dosen saya tidak menyukai ide saya, berarti dia tidak menyukai saya.” Jenis konflik ini sangat merusak apabila tidak disadari dan ditangani. Salah satu risiko utama yang dibahas adalah bagaimana konflik tugas yang semula konstruktif dapat berubah menjadi konflik emosional ketika komunikasi dilakukan secara tergesa-gesa, hanya melalui email atau aplikasi pesan singkat sehingga kehilangan konteksnya.

Gaya Manajemen Konflik dan Konsekuensinya

Dengan menggunakan kerangka klasik manajemen konflik, seminar ini membahas berbagai pendekatan: integrating, compromising, obliging, dominating, avoiding, serta penggunaan pihak ketiga. Setiap gaya mencerminkan tingkat kepedulian yang berbeda terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Yang ditekankan adalah bahwa tidak ada satu gaya pun yang selalu “paling benar”. Peserta justru diajak untuk bersikap reflektif dan sadar dalam memilih pendekatan. Kebiasaan menghindari konflik mungkin mencegah eskalasi dalam jangka pendek, tetapi juga berisiko menumbuhkan groupthink atau harmoni semu yang justru menghambat kemajuan intelektual.

Kemampuan mengelola konflik adalah inti dari kedewasaan akademik. Kemampuan untuk bertahan dalam ketegangan (tension) tanpa menjadikannya personal adalah prasyarat agar gagasan, dan manusia di baliknya, dapat bertumbuh.

ARTIKEL KESEHATAN

Artikel Lainnya yang Sesuai

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Scroll to Top