Salah satu mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Dhia Madhurya Fawwaz (Teknik Lingkungan 2025), bersama dua rekannya, Muhammad Denry Aliislami Brawijaya (Teknik Sipil 2025) dan Ghefira Syakira Mumtaz (Rekayasa Infrastruktur Lingkungan 2025), berhasil mengharumkan nama Indonesia pada ajang World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) 2026. Kompetisi tingkat internasional tersebut diselenggarakan di Yogyakarta pada 27–28 Juni 2026.
Mengusung nama tim 3 Ay’am, ketiga mahasiswa tersebut berhasil memborong delapan penghargaan melalui inovasi bertajuk AquaLoop Tower System (ATS), sebuah sistem pengolahan greywater kompak berbasis teknologi Membrane Bioreactor (MBR) yang dirancang untuk mendukung pengelolaan air berkelanjutan pada gedung-gedung bertingkat.
Inovasi ini berangkat dari permasalahan penurunan muka tanah di Jakarta yang salah satunya disebabkan oleh eksploitasi air tanah secara berlebihan oleh bangunan bertingkat. Meskipun telah terdapat regulasi yang membatasi penggunaan air tanah, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu penyebabnya adalah sistem pengolahan air konvensional (Water Treatment Plant atau WTP) yang membutuhkan area instalasi cukup luas sehingga sulit diterapkan pada bangunan di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.
Sebagai solusi, tim mengembangkan AquaLoop Tower System (ATS) yang memanfaatkan teknologi Membrane Bioreactor (MBR). Teknologi ini mengintegrasikan dua proses utama dalam satu unit modular, yaitu proses biologis yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk menguraikan polutan organik serta proses filtrasi membran ultra-halus menggunakan membran mikrofiltrasi atau ultrafiltrasi untuk menyaring padatan tersuspensi dan biomassa mikroba.
Melalui integrasi kedua proses tersebut, ATS mampu menggantikan kebutuhan tangki sedimentasi yang umumnya digunakan pada sistem WTP konvensional. Dampaknya, kebutuhan area instalasi dapat dikurangi hingga sekitar 60 persen tanpa mengurangi kualitas hasil pengolahan. Bahkan, sistem ini mampu menghasilkan reclaimed water dengan kualitas yang lebih jernih dan stabil.
Dengan desain yang ringkas, ATS dapat dipasang langsung pada ruang mekanikal maupun basement gedung tanpa mengurangi luas area komersial. Air hasil pengolahan kemudian dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan non-potabel, seperti toilet flushing, cooling tower, pembersihan gedung, hingga irigasi lanskap. Penerapan sistem ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan gedung terhadap air tanah sekaligus mendukung konservasi sumber daya air dan pembangunan kota yang lebih berkelanjutan.
Atas inovasi tersebut, Tim 3 Ay’am berhasil meraih delapan penghargaan dalam ajang WISEC 2026, yaitu:
Grand Champion 2nd Sustainable Innovation National Essay Competition & World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) 2026;
Winner (1st Place) World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) 2026;
Gold Medal Awardee Subtheme Sustainable Cities and Disaster Resilience;
Favorite Poster Subtheme Sustainable Cities and Disaster Resilience;
Best Presentation Subtheme Sustainable Cities and Disaster Resilience;
Best Booth Decoration Subtheme Sustainable Cities and Disaster Resilience;
Best Essay Subtheme Sustainable Cities and Disaster Resilience; dan
Best Sustainable Idea Kategori Mahasiswa.
Prestasi tersebut menjadi bukti kontribusi mahasiswa ITB dalam menghasilkan inovasi yang menjawab berbagai tantangan lingkungan, khususnya di bidang pengelolaan sumber daya air dan pembangunan perkotaan berkelanjutan. Melalui AquaLoop Tower System (ATS), tim berharap teknologi pengolahan air yang efisien, hemat ruang, dan mudah diintegrasikan ke dalam bangunan bertingkat ini dapat menjadi salah satu solusi dalam mengurangi eksploitasi air tanah serta mendukung implementasi konsep kota berkelanjutan di Indonesia maupun di tingkat global